Penyebab Pacaran di Kalangan Remaja Menjadi Fenomena yang Lumrah

Penyebab Pacaran di Kalangan Remaja Menjadi Fenomena yang Lumrah

Masa remaja terutama masa SMA adalah masa yang paling indah. Remaja senang bertualang sehingga mereka suka berekspresi dan bereksperimen hal-hal yang baru. Rasa penasaran dan ingin tahu membuat mereka mencoba banyak hal baru karena masih dalam proses pencarian jati diri. Banyak remaja yang berpendapat, hidup itu cuma sekali dan masa-masa remaja tidak akan pernah terulang untuk kedua kali sehingga mereka harus melakukan banyak hal menyenangkan. Kondisi psikologis yang masih sangat labil membuat para remaja harus berhati-hati dalam pergaulan karena mereka bisa terjerumus dalam kegelapan yang menyesatkan.  Remaja masih butuh bimbingan dan contoh dari figur yang paling berpengaruh dalam hidup mereka, yaitu kedua orangtua.

Orangtua berperan penting dalam pendidikan karakter dan moral anak-anak karena rumah dan keluarga adalah ranah pendidikan yang utama bagi mereka. Sebagian besar remaja sulit untuk diarahkan dan suka seenaknya sendiri karena merasa bukan anak kecil lagi yang harus selalu dibimbing oleh orang tua. Namun dari segi usia, remaja masih belum paham apa yang terbaik untuk dirinya. Mereka hanya tahu apa yang mereka suka dan tidak mereka suka berdasarkan emosi, tetapi bukan berdasarkan pikiran yang matang. Mereka juga masih belum mampu menentukan mana hal yang baik dan buruk seperti memilih hiburan atau tontonan yang mereka lihat setiap hari. Fenomena pacaran di kalangan remaja sepertinya lumrah terjadi. Apa saja penyebab pacaran menjadi lumrah?

1. Tontonan yang Tidak Mendidik

Pada era digital seperti saat ini, teknologi berkembang pesat terutama internet. Saat ini tengah dikembangkan jaringan 5G yang lebih canggih dari 4G.  Banyak sekali media seperti televisi yang menyiarkan acara-acara hiburan yang tidak mendidik. Misalnya, sinetron remaja tentang kisah cinta anak sekolah dengan kehidupan yang serba modern dan kaya. Sinetron seperti itu bisa memberi pengaruh yang tidak baik karena remaja yang menonton mungkin saja meniru gaya hidup demikian. Faktanya, tontonan seperti ini justru sangat disukai oleh remaja dan anak-anak yang belum mengerti apa itu pacaran. Sungguh fenomena yang miris. Sinetron seolah mengajarkan lika-liku cinta remaja yang menyenangkan dan membuat hidup lebih berwarna melalui pacaran. Akibatnya, fenomena pacaran di kalangan remaja menjadi sangat lumrah. Kalau ada anak yang belum pernah pacaran pasti dijuluki “Si Cupu” alias culun punya karena dianggap aneh. Bahkan anak itu juga kerap dicap tidak normal, tidak laku, atau tidak gaul karena tidak punya pacar.

2. Pembentukan dari Masyarakat

Kita pasti sering melihat di jalan, di mall atau di tempat umum banyak remaja yang berseragam sekolah tidak sungkan bergandengan tangan atau berpelukan di tempat umum. Mereka sama sekali tidak merasa risih saat diperhatikan oleh banyak orang. Mereka justru merasa bangga karena sudah punya pacar. Norma-norma agama seakan tak dihiraukan asalkan mereka happy. Banyak sekali kasus negatif seperti pelajar melahirkan di sekolah, bayi dibuang atau dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, dan masih banyak lagi akibat pergaulan bebas. Bahkan, ada pelajar yang mengikuti UN sambil menggendong bayi. Sebenarnya penyebab remaja pacaran juga biasanya orangtua mereka. Tak jarang orangtua merasa malu kalau anaknya tidak punya pacar, bukan sebaliknya. Hal seperti ini terbentuk secara tidak sadar dalam masyarakat sehingga masyarakat merasa biasa saja dengan remaja yang pacaran. Justru sebaliknya, jika ada anak yang tidak pernah pacaran malah digosipkan.

Kita harus merenung dan introspeksi diri, bukan justru saling menyalahkan karena fenomena buruk yang terjadi. Orang-orang dewasa terutama yang sudah menjadi orangtua harus mencari jalan keluar agar para remaja tidak rusak moralnya dan terjerumus dalam pergaulan bebas yang membuat masa depan mereka suram. Remaja lelaki dan perempuan yang berpacaran akan merugi. Si lelaki akan banyak mengeluarkan uang karena harus sering mentraktir pacarnya atau mengantar jemput pacar sehingga bensin sering habis lebih cepat. Sedangkan si perempuan jauh lebih rugi karena ia akan sering dipeluk, dipegang, atau dicium oleh pacarnya. Bahkan hal yang lebih mengerikan bagi perempuan adalah dia bisa kehilangan keperawanan karena dipaksa oleh sang pacar untuk melakukan hubungan intim yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri.

Jadilah remaja yang berkualitas dan berprestasi. Tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga bisa di bidang apapun. Buktikan kepada banyak orang kalau kamu berbeda dari remaja lainnya. Buatlah kedua orang tua bangga karena prestasi yang kamu raih dan akhlak yang baik. Tinggalkan saja teman yang membawa pengaruh buruk daripada kamu terbawa menjadi buruk. Kamu tetap bisa jadi anak gaul, tetapi bergaul dengan orang-orang berbakat dan berprestasi sehingga kamu termotivasi untuk menjadi lebih baik. Semangat menjadi orang yang positif dan pembawa aura positif!